Dunia ini sangatlah mempesona, wajahnya cantik, baunya harum, tubuhnya indah, rayuannya pun mematikan. Dengan uang segudang membuat hati senang dan tenang, jabatan menjadikan hidup nyaman, kekayaanlah yang saya idamkan (berteriak dalam kebodohan).
Tepat setelah lulus MA, saya di utus oleh orang tua untuk menyelam di lautan ilmu, yaitu pondok pesantren dan kampus. Motor tua pun akan segera kami pinang, sebagai alat transportasi saya dalam mencari Ilmu. Saat itu umur saya masih sekitar 18 tahun lebih sedikit, ya namanya anak muda pasti gejolak sifat gengsi masih tinggi. Semuanya harus mewah, hp mahal, motor mahal, gaya hidup mewah dll. Sementara saya ini dilahirkan dari keluarga menengah kebawah. Kedua orang tua petani, penghasilan tidak stabil itu pasti. Meskipun kebutuhan sehari-hari tercukupi bahkan terkadang juga lebih dari cukup, akan tetapi jarang sekali mulut saya ini mengucap syukur atas semua kenikmatan yang telah diberikan Alloh kepada keluarga kami. Bagaimana saya mau bersyukur kalau uang saja tidak banyak seperti mereka-mereka yang melimpah uang tapi juga enggan bersyukur. Padahal telah banyak kenikmatan yang telah Allah berikan selain uang, contohnya saja udara yang setiap hari saya hirup tanpa harus membayar, dll. Sungguh sombongnya saya. Inginnya seperti yang lain, duduk di rumah tanpa harus pergi ke sawah dan bersusah payah untuk menghasilkan upah.
Akhirnya, dengan keinginan mewah yang sulit terwujudkan, saya pun memutuskan untuk memilih jalan lain yaitu bekerja. Proses demi proses terlampaui, akhirnya saya di terima bekerja di PT. WINGSFOOD Gresik. Berangkatlah saya ke tempat tersebut tanpa meninggalkan doa restu dari kedua orang tua. Tibalah hari dimana saya harus memulai kerja untuk pertama kalinya tanpa ada dampingan keluarga dengan atmosfer baru yang sangat panas, memeras keringat tanpa henti serasa seperti kepala keluarga beristri dua. Teman kerja yang sangat variatif, pola berpikir yang beraneka ragam membuat jiwa ini semakin cinta dunia. Apakah senikmat dan sekejam ini dunia? Satu bulan terlewati, gaji pun telah saya terima. Walaupun gaji pertama ini lumayan tidak sedikit, tapi masih saja lisan ini sulit untuk bersyukur. Astaghfirullah.
Gaya hidup baru dengan sekantong harta telah saya jalani saat itu, semakin banyak harta semakin banyak keinginan. Begitulah memang sifat manusia, uang sedikit kurang, banyakpun juga tetap masih merasa kurang. Tujuan utama saya bekerja adalah untuk membeli kuda besi/motor yang bagus, dalam artian kekinian dan gaul, sebatas hanya untuk menandingi teman-teman saya. Begitu pendek dan polos niat ini, mencari uang hanya untuk bersaing gengsi dengan tetangga, saling iri, saling beradu jabatan duniawi, begitu serakahnya saya saat itu. Menengadahkan kedua tangan untuk berdoa hanya ketika susah dan butuh saja, sementara disaat kehidupan sudah nyaman lalu enggan untuk berdoa. Ampunilah hamba-Mu ini Ya Robbi.
Tepat satu tahun saya bekerja, keinginan untuk membeli motor yang katanya gaul pada zamannya telah tercapai, karena memang kontrak janji saya dengan orang tua hanya bekerja satu tahun. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit sudah mulai belajar bersyukur, padahal bersyukur tidak harus menunggu ketika saat bahagia saja. Bahkan disaat bahagia pun saya jarang untuk bersyukur, karena saya sering lupa akan tafakkur keagungan dan nikmat-nikmat Alloh yang telah saya rasakan.
Waktu terus berputar, status santri dan gelar sarjanapun telah saya genggam. Mulai saat inilah saya merasa berdiri di persimpangan dua arah, yaitu jalur bekerja dan menganggur. Sebagai seorang sarjana pendidikan, paling tidak saya harus menjadi seorang guru. Yang tergores didalam pikiran saya masih saja uang dan uang. Saya membayangkan andaikan saja saya menjadi guru, bahkan telah menjadi ASN maka hidup saya akan tentram dengan upah yang dihasilkan dari hal tersebut. Namun disisi lain, desas-desus orang-orang mulia yang sering saya dengar adalah bahwa "jangan sekali-kali kamu menjual ilmumu hanya karena harta" . Kalimat itu sangat membingungkan posisi saya yang begitu lemah, bodoh, dan pendek dalam berpikir, bagaimana saya bisa mendaki keluar dari gelapnya lembah kalimat tersebut. Jadi guru salah, kalau tidak jadi guru ya tidak dapat upah, perasaan cemas semakin merongrong seluruh tubuh.
Saya sedikit teringat bahwa didalam fiqih itu ada yang namanya ujroh, dan ujroh tersebut tidak lepas dari yang namanya jasa atas pekerjaan yang telah dilakukan. Begitu pula seorang guru, dalam koredor ini guru tidak termasuk menjual ilmu dan boleh menerima imbalan atas perbuatan yang diketahui dan dari tenaga yang diketahui. Bagaimanapun juga, seorang guru juga membutuhkan penunjang kehidupan mereka dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya.
Mengutip
dawuh Imam Ghozali tentang definisi dunia, dengan keterbatasan ingatan dan pemahaman
saya belaiu berkata dalam kitabnya kurang lebih bahwa definisi dunia
adalah segala hal yang tidak ditujukan atau bertujuan untuk akhirat.
Meskipun tampaknya perbuatan akhirat namun ternyata tujuannya adalah
dunia, maka hal tersebut termasuk dunia, begitupun sebaliknya. Sekali
lagi niatlah yang perlu kita kelola, saya membeli motor bukan ternasuk
cinta dunia apabila niat saya membelinya adalah untuk sarana mencari
ilmu. saya mencintai seorang wanita cantik itu dunia, tapi kalau niatnya
untuk kehidupan di akhirat, maka cinta wanita termasuk akhirat. Saya menghafalkan Al Qur'an nampaknya perbuatan akhirat, tapi kalau tujuannya hanya untuk mencari beasiswa misalnya maka hal tersebut termasuk dunia.
Oleh karena itu, saya harus belajar menata niat agar semua hal yang nampaknya duniawi dapat bernilai ibadah dan dijauhkan dari hal-hal yang nampaknya ibadah ternyata hanya bermaksud dunia. Mohon maaf atas kedangkalan pemahaman saya.
See you Next Time
