Senin, 30 Desember 2019

INOVASI TAK KUNJUNG REALISASI

Liburan  telah sampai pada penghujung hari. Rencana dan inovasi yang tak kunjung terealisasi. Katanya liburan nyatanya malah lemburan. Tergambar tujuan wahana wisata di layar kaca hp, namun pada akhirnya hanya secangkir kopi dan selinting Surya yang membuat bahagia. Begitu irit liburanku.
     Senin, 30 Desember 2019 sore menjelang malam, dimana diri merasa ambigu dengan segala kondisi. Sebenarnya apa ta'rif dari liburan? Apakah kebebasan bertindak ataukah justru keterpurukan? Okelah, saya seduh dulu kopi hangat ini.
Oh iya, saya teringat bahwa hari ini adalah hari wafatnya Bapak Presiden RI ke-4. Figur Ulama' yang telah masyhur di penjuru Dunia. Bapak pluralisme dunia sebutannya. Teringat sekali ucapan beliau "gitu aja kok repot". Kalau di fikir-fikir memang kata-kata tersebut sangat cocok dilontarkan sebagai guyonan dalam kondisi apapun. Salah satunya adalah kondisi untuk mengisi liburan tanpa sebuah perjalanan ini. Oke lah, sedikit terobati dengan kata-kata tersebut.

     Gus Dur, beliau memang hebat. Ilmu agama di kuasai, ilmu Umum pun juga tuntas di arungi. Tak heran jika waktu itu beliau menjadi seorang pemimpin Bangsa yang bertubi-tubi menerima hujatan dan sanggahan dari berbagai kalangan. Semua agama beliau rangkul, sampai-sampai saat wafatnya pun berjuta-juta orang non Islam ikut merasa kehilangan. Sikap toleransi beliau sangatlah tinggi. Kemajemukan masyarakat sangat beliau sadari. Islam yang merangkul bukanlah Islam yang memukul. Ke arifan dan kebijaksanaan beliau sangat patut untuk saya renungkan sore ini.
     Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu di perjuangkan mati-matian, dawuh beliau ini sangat mendalam. Sungguh penuh makna Gus tutur katamu. Sangat ironis keadaan sekarang Gus, berebut kursi jabatan sudah menjadi tontonan biasa zaman sekarang. Gencatan senjata berupa uang demi mendapatkan jabatan tidak jarang kita temui. Lebih mementingkan jabatan dari pada kemaslahatan. Kapan kami mendapatkan sosok sepertimu lagi Gus? Semoga kami tercatat sebagai santrimu Gus. Amin.
      Demi memaukan kualitas diri memang membutuhkan sosok figur idaman. Dalam menjalani proses tholabul 'ilmi kerap sekali muncul problematika. Salah satunya malas. Romo Yai sering dawuh, kadang beras kadang ketan, kadang waras kadang edan. Ya memang begitulah keadaan saya. Ketika rasa malas sudah merasuk ke dalam tubuh, maka di situlah fikiran mulai off. Berfikir sulit, tumpul berkarya, tak ada inovasi. Itulah sebabnya Abi juga pernah dawuh, jangan sampai otak ini di biarkan untuk sama sekali tidak memikirkan sesuatu. Nggeh Abi, saya sedang berusaha untuk bangkit mencari terobosan baru.
     Ketepatan kali ini saya masuk dalam struktur organisasi Pengurus, sejenak berfikir juga. Sebenarnya saya belum pantas menjadi sosok Pengurus, karena memang latar belakang tidak sebaik pengurus pada umumnya. Tapi apa daya, kalau memang ini menjadi tempat belajar mengembangkan diri, oke lah saya jalani. Kadang juga berfikir lucu, selain memikirkan santri, seorang pengurus juga harus memikirkan kapan rabi, hehehe.
     Loh, ternyata waktu sudah menjelang Maghrib. Suara adzan telah di kumandangkan dan saya masih duduk di warkop. Ya sudah, mungkin ini satu luapan hati di ruang liburan yang penuh dengan perencanaan. Sudah saatnya kembali ke markas besar, dimana tempat terukirnya sebuah harapan besar. Selamat kembali lagi ke Pondok para teman seperjuangan, liburan telah usai. Berikan warna yang lebih cerah lagi untuk masuk di semester 2 ini. Sebaik-baik perjalanan adalah ketika kita berjalan di jalur Tholabul'ilmi. Sopo wonge telaten, bakale panen.


Selinting Surya, Setetes kopi.
Yo ngaji, Yo ngopi, Yo ngabdi, Yo rabi, Yo Belo kiyai, Yo muji Nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GAWAI BERDURI

  Awalnya saya memang tertarik dengan tema diklat pada hari ini, yaitu menulis itu mudah. Ternyata memang mudah, mudah untuk ditunda, mudah ...