Pemaknaan fa'il dan maf'ul kerap sekali terdengar di kalangan santri, bahkan kata tersebut merupakan sego jangan (materi sehari-hari) dalam roda kehidupan kami. Santri sebagai maf'ul adalah dimana santri di posisikan sebagai bahan kajian (objek) bagi orang lain, sedangkan santri sebagai fa'il adalah kedudukan santri sebagai penggagas dan pencetus. Bukan hanya menikmati hasil orang lain melainkan juga berusaha untuk satu langkah lebih maju sebagai produsen.
Santri, iya memang ketika di lontarkan kata santri maka yang terbesit di dalam benak adalah identik dengan Pondok Pesantren. Meskipun di sisi lain terdapat perbedaan argumen mengenai definisi santri tersebut.
Pondok Pesantren merupakan lembaga Original Islam tertua di Indonesia yang mengemban dua fungsi, yang pertama pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang harus konsisten dengan gaya tradisi dan ajaran-ajarannya sebagai kontrol sosial, pengayom, dan penganut masyarakat. Di sisi lain, juga berfungsi sebagai agen Pembangunan Nasional yang menjadi tuntutan masyarakat di era globalisasi.
Santri, iya memang ketika di lontarkan kata santri maka yang terbesit di dalam benak adalah identik dengan Pondok Pesantren. Meskipun di sisi lain terdapat perbedaan argumen mengenai definisi santri tersebut.
Pondok Pesantren merupakan lembaga Original Islam tertua di Indonesia yang mengemban dua fungsi, yang pertama pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang harus konsisten dengan gaya tradisi dan ajaran-ajarannya sebagai kontrol sosial, pengayom, dan penganut masyarakat. Di sisi lain, juga berfungsi sebagai agen Pembangunan Nasional yang menjadi tuntutan masyarakat di era globalisasi.
Sebagai santri PP. Al Hikmah Melathen yang lahir pada sekitaran tahun 1990-2000, kami merasa tergolong sebagai generasi millenial yang memang mau tidak mau harus mengikuti arus perkembangan zaman berserta problematika dan tantangannya. Dengan kata lain, santri harus lebih berinovasi dan berkarya dalam segala bidang keilmuan. Lantas bagaimana langkahnya? Berfikir kritis, kreatif, inovatif serta memperluas wawasan keilmuan dengan tanpa menghilangkan identitas santri. Karena memang beginilah situasi sekarang, selain belajar ilmu-ilmu agama kami juga harus sedikit mahir dalam ilmu-ilmu duniawi.
Romo Yai pernah dawuh (kurang lebih) bahwa semua pekerjaan dunia (yang bersifat baik) dapat menjadi perbuatan akhirat apabila niatnya benar, begitupun sebaliknya. Karena ilmu adalah suatu lafadz yang bersifat umum, tidak hanya melulu tentang fiqih saja. Seperti pada kaidah dalam kitab waroqot:
والعلم لفظ للعموم لم يخص # للفقه مفهوما بل الفقه اخص
![]() |
| Mencoba menamai: Santri dengan seribu harapan dan cita-cita |
Kerap sekali para mahasiswa menjadikan pondok pesantren sebagai objek penelitian dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Baik hal-hal yang berkaitan dengan metode pembelajarannya, efektivitas pembelajarannya dan seterusnya. Lantas kapan kita yang gantian meneliti mereka?
Sebenarnya saya tidak akan menulis tentang apa itu definisi pondok pesantren, santri, metode dll. Melainkan saya akan lebih menekankan kepada peran seorang santri pondok di zaman millenial.
Pada waktu kuliah, dosen kami bernama Dr. Ngainun Nai'im, M.H.I yang mengampu mata kuliah Islam Nusantara menjelaskan bahwa kita sebagai generasi muda penerus bangsa jangan hanya puas menikmati hasil dari karya orang lain. Tapi cobalah untuk menghasilkan sebuah karya sendiri yang dapat di nikmati oleh orang lain. Perkataan tersebut tidak hanya satu kali, dua kali di ucapkan tetapi sangat sering.
Memang membutuhkan waktu untuk merenung. Setelah mendengarkan dawuh beliau, saya lantas berfikir memang selama ini kami sering menikmati karya orang lain tanpa menciptakan sendiri. Bahkan sering sekali kita menjadi objek penelitian mereka.
Pada intinya, kiprah pesantren dapat di lihat dari kualitas lulusannya yang memang harus eksis di tengah-tengah masyarakat dengan segala perangkat-perangkat ke ilmuan pada zaman sekarang. Karena santri tentunya sebagai icon masyarakat yang di harapkan dapat menciptakan perkembangan dan kemajuan atmosfir kehidupan ke arah yang lebih baik. Selain memikirkan kebahagiaan individu, ternyata santri juga harus berusaha bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, semangat untuk para sahabat santri.
Pada intinya, kiprah pesantren dapat di lihat dari kualitas lulusannya yang memang harus eksis di tengah-tengah masyarakat dengan segala perangkat-perangkat ke ilmuan pada zaman sekarang. Karena santri tentunya sebagai icon masyarakat yang di harapkan dapat menciptakan perkembangan dan kemajuan atmosfir kehidupan ke arah yang lebih baik. Selain memikirkan kebahagiaan individu, ternyata santri juga harus berusaha bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, semangat untuk para sahabat santri.
Sedikit coretan di penghujung tahun kala hujan telah berdatangan.
Minggu, 29 Desember 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar